...Lebih Baik Diasingkan Daripada Harus Menyerah Pada Kemunafikan...

Rabu, 14 September 2011

Burung Hantu Solusi Pembasmi Tikus Saat Kemarau

Surabaya (ANTARA) - Burung hantu diyakini menjadi solusi pembasmi tikus di sejumlah lahan padi di Tanah Air karena dapat menghentikan siklus perkembangbiakan organisme pemakan tanaman tersebut. 
"Tikus identik sebagai hama tanaman padi terutama merajalela pada kemarau seperti sekarang," kata Kepala UPT Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian Jatim, Kethut Marsudi, ditanya terkait dampak musim kemarau terhadap pola tanam petani padi Jatim di Surabaya, Rabu. 
Menurut dia, kini sudah ada sejumlah petani di Jombang yang menyebar 100 ekor burung hantu. Pada malam hari, burung hantu yang dipelihara di kandang tersendiri itu dilepas di beberapa area lahan padi. 
"Bahkan, di Mojokerto juga telah menerapkan upaya serupa untuk membasmi tikus meskipun jumlah burung hantu yang disebar lebih besar di Jombang," ujarnya. 
Akan tetapi, ia mengaku, selama sosialisasi terkait upaya pembasmian tikus di beberapa daerah terkendala oleh budaya masyarakat. Pada umumnya, mereka menganggap memelihara burung hantu bisa mendatangkan musibah. 
"Padahal, secara logika burung hantu sangat efektif membasmi tikus. Apalagi, burung hantu terkenal gemar makan tikus," katanya. 
Di sisi lain, ia menambahkan, selama ini sejumlah lahan padi yang menjadi sasaran tikus pada umumnya berada di Sidoarjo, Tuban, Lamongan, dan Lumajang. 
"Namun, kami memiliki data tersendiri tiap bulan mengingat kondisi lahan padi yang diserang tikus berbeda," katanya. 
Ia memberikan contoh, keadaan hama untuk tanaman padi per 16-31 Agustus 2011 daerah yang menjadi perhatian Dinas Pertanian Jawa Timur (Jatim) menyebar di Trenggalek seluas 297 hektare, Sidoarjo 149 hektare, dan Madiun 104 hektare. 
"Kami berupaya melakukan gerakan pengendalian hama tikus seperti meletakkan pestisida jenis Tiran dan ditaruh di lubang tikus," katanya. 
Untuk memudahkan petani, ulas dia, telah mengemas pestisida itu dalam wadah khusus berupa petasan sehingga setelah diledakkan uapnya akan terhirup oleh tikus. 
"Solusi lain, ada baiknya petani selalu rajin mengecek lahannya bagaimana keberadaan tikus di sana," katanya. 
Ia melanjutkan, metode pembasmi hama tikus banyak metodenya. Namun, paling efektif adalah ular. Tetapi, kini keberadaannya banyak diburu masyarakat menyusul harga jualnya per ekor sangat tinggi.

Selasa, 13 September 2011

Bekerjalah dengan Cinta

Wanita paruh baya itu berperawakan pendek dan sedikit gemuk. Beberapa helai uban turut menghiasi mahkota kepalanya yang diikat dengan penjepit rambut. Namun raut wajah bulat telur itu seakan tak pernah sekalipun terlihat cemberut. Ia selalu tampak riang, sehingga menyembunyikan parasnya yang jelas telah digurati keriput.
Wanita itu memang tidak terlalu renta, tetapi kekuatan dan kegesitan di masa mudanya niscaya telah direnggut usia. Karenanya, percayakah bahkan dari dirinya pun akan ada sebuah pelajaran tentang makna cinta?

* * *
Selalu…
Sabtu adalah hari yang ditunggu. Hari di mana nafas bisa dihela dengan panjang, dan sejenak mengistirahatkan raga dari rentetan kesibukan yang melelahkan. Saatnya pula untuk menikmati kebersamaan dengan seisi anggota keluarga. Sehingga, berbelanja di sebuah supermarket dekat rumah pun menjadi hiburan yang tak kalah meluahkan kebahagiaan.
Namun sepertinya tidak bagi wanita itu. Bagaikan tak mengenal hari libur, nyaris setiap waktu sosoknya selalu kutemui di sekitar kokusai kouryuu kaikan serta kampus.
Layaknya hari kerja, dikemasnya sampah-sampah yang berserakan serta dipisahkan antara yang terbakar dan tidak. Lantas ditaruhnya pada plastik yang berbeda warna. Sebentar kemudian diambilnya kain untuk mengelap kursi dan meja. Tak lupa, dengan vacuum cleaner dibersihkannya juga permukaan lantai. Setelah selesai ia segera beranjak ke toilet, lalu dengan mengenakan sarung tangan plastik dibersihkannya bekas kotoran manusia tersebut tanpa raut muka jijik.
Ia seperti tak peduli rasa lelah atau letih, walaupun terlihat pakaian seragam cleaning service biru mudanya telah basah bersimbah keringat. Tak juga kepenatan menyurutkan keramahannya untuk bertegur sapa dengan siapa saja saat bertemu muka.
Wanita itu entah siapa namanya. Hanya dengan panggilan obachan ia biasa disapa. Saat bersua denganku, juga selalu disempatkannya bertanya kabar. Bahkan ia pernah bercerita panjang lebar tentang anak-anak serta cucunya karena sering melihatku berjalan-jalan dengan keluarga. Beberapa kali pula saat usai kerja kulihat ia sedang berbelanja, masih lengkap dengan seragam biru mudanya. Lantas ditaruh barang-barang tersebut dikeranjang, dan perlahan dikayuhnya pedal sepeda tua untuk beranjak pulang.
Entahlah, rasanya tak ada perasaan iri dihatinya saat di hari libur ia ternyata harus bekerja, sementara aku justru berleha-leha. Ia bahkan tetap saja semangat bekerja dengan penuh suka cita. Begitu pula dengan obachan dan ojichan lain yang pernah kutemui, mereka selalu asyik menikmati pekerjaannya. Mencabut rumput liar di pekarangan kampus ketika musim panas, menyapu jalanan dari daun yang berserakan pada musim gugur, bahkan dengan bersusah payah turut menyerok tumpukan bongkahan salju di musim dingin.
Terlihat betapa bergairahnya mereka ketika memang waktunya harus bekerja. Gairah dalam bentuk kesungguhan dalam menekuni apapun jenis pekerjaan, yang mungkin tak dipandang orang walau dengan sebelah mata. Karenanya, tak terdengar ngalor-ngidul obrolan hingga jam istirahat tiba untuk sejenak melepaskan lapar dan dahaga. Berselang satu jam kemudian, mereka akan kembali sibuk menekuni pekerjaannya. Senantiasa egitu, dari waktu ke waktu.
Rutinitas mereka mungkin tidaklah istimewa. Bekerja demi memperoleh sedikit nafkah atau sekedar menghabiskan waktu luang, tentu lebih baik dari bermalas-malasan di rumah. Terlebih-lebih itu adalah pekerjaan kasar, bukan kerja kantoran yang menyenangkan dengan penyejuk atau pemanas ruangan.
Lalu mengapa mereka selalu saja bekerja seolah tak pupus oleh lelah? Bahkan bekerja bagaikan sebuah energi yang tak kunjung padam, mengalir dalam pembuluh darah serta menggerakkan jiwa dan raganya.
Sekejap akupun tepekur, kemudian mahsyuk merenung…
Dan kulihat ada gairah membara yang berpendar dari balik kerut-merut kelopak mata tua itu. Seolah sinar matanya menyiratkan pesan agar bekerjalah dengan cinta. Karena bila engkau tiada sanggup, maka tinggalkanlah. Kemudian ambil tempat di depan gapura candi untuk meminta sedekah dari mereka yang bekerja dengan suka cita. (Kahlil Gibran). Wallahu a’lamu bish-shawaab.