...Lebih Baik Diasingkan Daripada Harus Menyerah Pada Kemunafikan...

Jumat, 30 Desember 2011

Apa itu Kebahagiaan ?



Berapa banyak orang di dunia ini yang hidupnya dipenuhi rasa kegelisahan dalam hatinya dan kebingungan yang tak berujung hanya karena persepsi yang salah tentang kebahagiaan. Sebenarnya apa itu kebahagian itu? Megapa banyak orang sulit untuk meraihnya? Apakah meraka tidak bisa menemukan kebahagiaan? Atau mereka menemukan hal yang mirip dengan kebahagiaan tetapi sesungguhnya bukan kebahagiaan?
Pertanyaan ini sudah muncul sejak berabad-abad yang lalu dan misteri kebahagiaan ini masih saja belum menemukan jawaban yang tuntas, disini saya akan mencoba untuk menoba mendefinisikan kebahagian tersebut,
Menurut saya sebenarnya mereka itu bukannya tidak menemukan kebahagiaan, hanya saja mayoritas orang salah dalam mengartikan kebahagiaan tersebut.

Bagaimana tidak? karena sesunguhnya kebahagiaan itu hanya dapat dirasakan oleh orang-orang yang pandai dalam mensyukuri dan tabah dengan segala sesuatu yang terjadi pada dirinya didunia ini 2 sifat ini muncul karena keyakinan seseorang akan Tuhan. Maka jika sesorang telah hidup sebagaimana mestinya dan ketika kegagalan menderanya dia tak berputus asa atas kegagalan tersebut dan ketika keberhasilannya dalam suatu usaha ia raih, sombong dan congkak bukanlah sifat yang akan terlihat darinya.
Namun yang terjadi pada saat ini bukanlah seperti cerita diatas,oleh karenanya disini saya akan menyebutkan beberapa hal yang menyebabkan kebahagiaan itu sulit kita raih agar dapat kita hindari dan menjadikannya sebagai solusi terbaik dalam meraih kebahagiaan yang hakiki dalam kehidupan,
Pertama: Manusia cenderung mencari kebahagiaan dengan cara menemukan benda-benda yang diluar yang mereka anggap bisa membahagakan, dalam hal ini yang berperan penting adalah uang, kebahagian seringkali ditafsirkan dengan uang,harta benda dan kekayaan sebab mereka berkeyakinan bahwa kebhagiaan adalah kemampuan ketika kita bisa mendapatkan apapun yang kita iniginkan dan solusi terbaik untuk mendapatkanya adalah uang. Ini yang membuat diri kita mencurhkan segenap tenaga dan pikiran demi memperolehnya.
Yang menarik dalam hal ini ternyata uang bukannya bisa membuat kita merasa bahagia tetapi justru rasa tidak puas. Semakin kita memperoleh uang maka semakin tidak puas pula diri kita dengan hasil yang telah kita peroleh dan dari ketidakpuasan ini maka sudah pasti kebhagian bukanlah hal yang kita peroleh.

Kedua: Manusia seringkali memaknai kebhagiaan dengan kesenangan dan kenikmatan. Setiap orang memang senantiasa mencari kesenagna dan menghindari kesakitan, ini sudah menjadi fitrah dari manusia tanpa terkecuali, namun seringkali manusia hanya mempunyai perspektif jangka pendek yang menyebabkanya jatuh kedalam jurang ketidakbahagiaan karena manusia sringkali terpedaya pada kenikmatan dan kesenangan yang padahal ujungya menghantarkan pada penderiataan yang jauh kebih mendalam.
Mendapatkan uang se-banyak-banyaknya dengan cara yang mudah adalah kesenangan, tapi orang lupa bahwa diujung kebahagiaannya dia harus membayar dengan penderitaan telah menantinya misalkan jika ia harus menghadapi hukuman karena korupsi, tergoda dalam kesenangan seks yang secara kasak mata terlihat bahwa itu adalah bentuk dari kebahagiaan dan terlihat sangat menyenagkan untuk kemudian harus menuai hancurnya kredibilitas.


Keempat: ketidak percayaanya manusia akan hukum alam yaitu hukum sebab-akibat yang telah diatur oleh tuhan didunia sebagai cara Tuhan untuk intervensi dunia ini karena setiap perbuatan dialam ini akan ada akibatnya, tidak ada yang gratis.
Segala kebaikan pasti akan berakibat kebaikan pula meski tidak terjadi secara langsung begitu pula sebalinya. Banyak orang berfikiran bahwa hukum alam ini adalh relatif dan brfikir bahwa dia bisa mengakali hukum alam, mungkin pemikiran inilah yang menyebabkan manusia tak segan-segan melakukan kejahatan meski merka tau bahwa setiap keburukan akan menuai keburukan.
Pemikiran sperti ini sesungguhnya mencerminkan bahwa manusia tidak sepenuhnya percaya pada Hukum-Hukum Tuhan, ketika kita melakukan kejahatan sekecil apapun maka sesungguhnya kita telah merusak kbahagiaan kita sendiri. Ingatlah bahwa jiwa manusia itu suci pada fitrahnya, maka jika kita melakukan kejahatan sudah pasti muncul rasa gelisah, tidak tenang dan perasaan dikejar-kejar rasa bersalah, sesorang yang melakukan kejahatan bisa saja mersa gembira atas kejahatannya sendiri. tapi tidak bisa dipungkiri dibalik kesenangannya itu rasa tidak tenang dan tidak damai selalu hinggap dihatinaya. Batas kebahagiaan manusia itu adalah kebaikan, ketika seorang manusia keluar dari jalur kebaikan maka hatinya akan gelisah dan akan kembali damai lagi jika ia kembali kepada kebaikan.

Maka pastikanlah Langkah-langkah Terbaik mu untuk masa depan mu yang telah direncanakan.

Selasa, 27 Desember 2011

Istri Yang Setia


Dinegara Antah berantah memerintah seorang Raja yang bijaksana dan baik budi, memerintah dengan adil dan makmur. walaupun demikian Sang Raja selalu gundah mengingat putrinya yang cantik jelita sudah cukup umur tetapi belum punya calon suami.

Sang Raja mengutus putrinya untuk mencari sendiri calon suaminya. Sang Dewi bernama Suciati dengan gembira menyetujui permintaan ayahndanya. Menyamar sebagai orang biasa Dewi Suciati berdagang makanan dipasar tempat ayahnya memerintah. dalam beberapa saat ditemuilah seorang pemuda yang berjualan kayu bakar bernama Setiawan. Dalam perkenalan ini timbulah rasa cinta diantara keduanya.

Setiawan mengajak Dewi Suciati kerumahnya untuk diperkenalkan kepada orang tuanya. Dewi Suci amat terkejut, dimana Setiawan adalah orang miskin dan hidup bersama bapaknya yang sudah tua dan buta. semua keperluan hidupnya dilakukan oleh Setiawan sendiri. Setelah mengetahui keadaan demikian Sang Dewi Suciati juga mengenalkan Setiawan kepadaorang tuanya.

Begitu sampai Setiawan terkejut, bahwa Dewi Suciati adalah anak Raja yang baik budi dan hidup sederhana. Raja menyetujui atas pilihan calon suami Dewi Suciati. Diputuskan pula Pesta pernikahan akan segera dilangsungkan. Begitu disetujui pada malam hari Sang Raja memimpi didatangi Malaekat yang mengatakan bahwa Calon menantunya Setiawan adalah orang baik tetapi umurnya hanya setahun lagi. Begitu terbangun dan besoknya dipanggilah putrinya untuk membicarakan mimpi itu. Dewi Suciati tetap pada pendirian atas pilihannya, dan meminta agar dirahasiakan mimpi itu. Setelah selesai upacara kebesaran, maka Dewi Suciati diboyonglah kerumah Setiawan untuk hidupberumah tangga sebagaimana layaknya orang biasa.

Dewi Suciati merawat mertuanya dengan kasih sayang dan suaminya dicintai sepenuh hati. Merua dan suami amat bahagia atas hadirnya Dewi Suciati dirumah itu. Dewi Suciati sudah merasa satu tahun merawat mertuanya dan suaminya maka dia melakukan puasa 3 hari tiga malam menjelang ajal yang ditentukan. Pada saat ajal tiba Dewi Suciati meminta ikut menemani Setiawan ketengah hutan untuk membantu mengambil kayu bakar. Setiawan melarangnya karena pekerjaan mencari kayu bakar adalah berat dan hanya untuk para lelaki.

Akhirnya Setiawan setuju dibantu oleh istrinya Dewi Suciati. Saat asiknya mengumpulkan kayu bakar Setiawan merasa capek dan tidak enak badan dan beristirahat dengan peluh yang mengucur terus. Dewi Suciati mengetahui isyarat itu bahwa saatnya sudah tiba Setiawan akan meninggal maka ditaruhlah kepala Setiawan dipangkuannya dan dibelainya dengan kasih sayang. Akhirnya mengembuskan nafasnya terakhir dalam pelukan Dewi Suciati.

Saat itu pula bersamaan hadir Malaekat yang menyampaikan berita dulu kepada ayahnya Sang Prabu. Malaekat berkata ” Hai Dewi Suciati sudah saatnya Setiawan meninggalkan dunia ini, karena engkau berdua orang baik kami akan memenuhi 3 permintaan yang engkau pinta asal jangan meminta Setiawan dihidupkan kembali.

Terimakasih Malaekat ” Hamba meminta agar mertua hamba bisa melihat ” Malaekat menjawab ” Permintaanmu dipenuhi, dan berikutnya apa yang kau minta “. Dewi Suciati meminta yang kedua adalah ” Hamba mohon diberikan anak seratus orang ” . Malaekat menyetujui permintaan tersebut. Dan terakhir apa yang kau minta Dewi Suciati ? tanya malaekat. Dewi Suciati berpikir setengah mati apa yang diminta untuk yang terakhir ini. Terbesit dipikirannya bagaimana punya anak tanpa suami ?. Akhirnya Dewi Suciati mengajukan pertanyaan itu kepada Malaekat, Malaekatpun menyetujui itu yaitu menghidupkan Setiawan agar mempunyai anak seratus orang selama seratus tahun.

Sastra menyatakan bahwa orang biasa seperti kita-kita ini hanya boleh dan dipenuhi oleh Tuhan satu kali permintaan, orang suci tiga permintaan sedangkan pertapa seratus permintaan akan disetujui oleh Tuhan. Karena kita dipenuhi hanya satu kali hati-hatilah mengajukan permintaan itu agar jangan salah meminta. PINTALAH KEPADA TUHAN KEDAMAIAN HATI . Kedamaian Hati adalah Kedamaian Sejati